Pemuda Sebagai Agent of Change

Oleh : Hening Nurcahya, AP., M.M

"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." (Ir. Soekarno).

Ir. Soekarno sudah memprediksi hal apa yang akan kita alami sebagai pemuda di masa ini. Tetapi juga ada satu kutipannya yang menggambarkan betapa dahsyatnya pemuda bagi agent perubahan.

”Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” kalimat yang di lontarkan Ir. Soekarno tersebut mengambarkan isi hati beliau yang tanpa ragu mempercayakan bangsa Indonesia ditangan pemuda.

Peran pemuda untuk perjuangan kemerdekaan tidak hanya berhenti sampai diikrarkannya sumpah pemuda, di era reformasi dan globalisasi saat ini tantangan yang dihadapi jauh lebih besar. Penjajahan tidak lagi secara fisik tetapi lebih secara mental dan spiritual.

Masa depan bangsa ditentukan oleh para generasi muda, karena generasi muda merupakan ujung tombak kemajuan dalam pembangunan bangsa. Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, pengetahuan yang inovatif, serta kreativitas yang tinggi dan cenderung membangun pola kerja dengan keterampilan interpersonal yang kuat. Sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang.

Dalam undang-undang RI nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Berbagai hal yang berkaitan dengan kepemudaan adalah potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda.

Selain itu pemuda juga dijuluki sebagai agent of change (agen perubahan). Memang tidak dapat dinafikkan peran pemuda dalam kehidupan bernegara terutama dalam perubahan yang telah mereka hasilkan dalam setiap zaman. Mulai dari kebangkitan nasional, kemerdekaan, revolusi,sampai revormasi. Bagi mereka serasa tidak ada kekolotan dalam kehidupan bernegara dan berpolitik karena merekalah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa dan Negara.

Namun sebagai pemuda kita juga kerapkali menemukan masalah yang tak lazim dihadapi pemuda masa kini misalnya dalam konteks character building yang meliputi: adanya arus materialisme dan hedonisme, Ketidakmampuan para pemuda dalam menyesuaikan dengan peluang partisipasi politik yang makin terbuka di era reformasi, banyaknya rintangan untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.

Hal-hal tersebut menimbulkan akibat yaitu diantaranya: redupnya nasionalisme para pemuda sehingga menurunkan rasa persaudaraan dan semakin tajamnya individualisme, timbulnya anarkisme, tindak kekerasan, dan liberalisme. Maka dari itu pemerintah memberikan pembinaan peningkatan keterampilan hidup.

Peningkatan keterampilan hidup sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan generasi muda diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978 bertujuan agar semua pihak terlibat dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, benar, tepat sasaran dan terarah. Motivasi asas pembinaan dan pengembangan generasi muda bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional, seperti yang disebutkan dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV.

Sebagai pemuda kita harus peka terhadap masa depan dan menata masa kini sebagai bekal dalam menghadapi tantangan dimasa depan serta menjaga dan memelihara bangsa ini. Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UUD 1945.

Dalam hal ini kita dapat berperan serta dengan cara mencerdaskan dirinya sendiri lewat Pendidikan. Karena Pendidikan merupakan salah satu kunci besarnya suatu negeri.

Dengan Pendidikan, berhasil melahirkan potensi untuk berkarya, membuat inovasi, dan membangun semangat juang demi kemajuan bangsa. Selain itu dengan mengubah hidup dan pola pikir dirinya sendiri dari orang-orang terdekat. Karena sebagai agent of change (agen perubahan) dapat kita mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita, misalnya dengan membentuk karakter dan mencoba peduli dengan keadaan sekitar serta saling memotivasi dan mendorong adanya kemajuan dalammasyarakat.

Dengan demikian, kita akan siap untuk menjadi agen perubahan (agent of change) untuk Indonesia yang lebih baik. Selanjutnya, dengan sadar dan menempatkan diri sebagai pemuda yang progresif, agresif, dan dinamis dengan tetap menjaga dan menjunjung nilai-nilai budaya bangsa. Karena Indonesia sendiri merupakan negara yang unik dengan bebagai keanekaragaman budaya diberbagai daerahnya, keunikan tersebut menjadi identitas bangsa Indonesia.

Memang sangat disayangkan perkembangan teknologi yang semakin pesat dapat menyebabkan identitas semakin memudar. Padahal identitas adalah hal yang harus dimiliki oleh pemuda. Era globalisasi ini bisa membuat identitas Indonesia semakin hilang. Untuk itu pemuda Indonesia memiliki tantangan agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitasnya.

Di era digital ini, pemuda diharapkan menjaga identitas keindonesiaannya dalam menghadapi pergaulan global. Selain itu sebagai pemuda juga harus mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan kegiatan yang positif dengan memiliki sikap idealisme.

Pemuda berani memegang teguh apa yang menjadi citacitanya dan berani membela yang benar. Indonesia sendiri merupakan negara dengan demografi populasi anak muda atau remaja lebih banyak dibandingkan orang dewasa atau orang tua. Maka dari itu peran pemuda akan sangat berdampak bagi kehidupan bangsa Indonesia, khususnya dalam melakukan perubahan.

Kesimpulannya, suatu bangsa yang besar akan bertahan bila pemudanya dapat menjadi agen perubahan (agent of change) dan melakukan kegiatan positif untuk kemajuan bangsanya. Jangan sampai pemuda malah terjebak dalam kegiatan yang tidak produktif dan mengancam kehancuran masa depan bangsanya. Karena  pemuda berperan penting dalam perubahan kualitas bangsa.

REFERENSI : Rafaela Defanita N